Kalau mendengar namanya, "jambu sukun lokal" jadi teringat waktu kita kecil dulu. Dipekarangan tetangga jambu ini tumbuh subur dan selalu jadi incaran semua orang jika ada buah yang sudah mulai berwarna hijau semburat kuning saat itu.
Namun sayang, setelah 20 tahun lebih berlalu, sosok tanaman ini jarang kita temukan di halaman rumah ataupun pekarangan. Seiring bergulirnya waktu keberadaan jambu sukun lokal tergeser oleh jenis jambu-jambu biji lainnya. Padahal dari segi kualitas rasa dan aroma nya jambu sukun lokal tidak kalah dengan para pendatang baru.
![]() |
| buah masak pohon, jangan lupa dibungkus |
Walaupun ukuran buah tidak sebesar jambu biji thailand misalnya, jambu sukun lokal memiliki ciri khas tersendiri. Aroma buah yang harum dan daging dengan tekstur yang lembut jika buah matang, merupakan kelebihannya dari jenis lainnya.
Untuk mendapatkan bibitnya saja saat itu susah nya minta ampun, oleh karena jarang orang yang masih membudidayakannya.
![]() |
| tekstus buah lembut, non biji |
Sebenarnya Jambu sukun lokal tidak memerlukan perawatan yang khusus dalam penanamannya. Asal pemangkasan rutin dan pemberian pupuk yang cukup, buah akan muncul susul menyusul tanpa mengenal musim. Buah pentil pun jarang rontok jika dibandingkan dengan jambu sukun merah misalnya.
Sebelum jambu ini musnah di bumi pertiwi, rasanya cocok sekali jambu sukun lokal kita jadikan tanaman koleksi di kebun atau pekarangan. Biar anak cucu kita tahu jika di Indonesia juga ada jambu biji yang tidak kalah dengan buah impor dan tentu saja dengan cita rasa yang mak nyusss.


