Satu lagi koleksi mangga dikebun belakang rumah yang terlewatkan, dialah mangga Falan. Sebenarnya tanaman ini sudah lama (3 tahun lebih) nangkring di kebun. Label nama yang hilang juga sempat menjadikan bingung saat ditanya oleh rekan-rekan "jenis mangga apa ini ?"
Pada saat pertama kali tanaman ini berbuah di kebun banyak buah yang pecah, kala itu beranggapan kalau si pohon sempat terabaikan dan kurang pasokan nutrisi. Baru kala berbuah untuk ke dua kalinya saat itu sempat mencicipi rasa buahnya, dan ternyata ..hemmm...renyah tanpa rasa masam sekali. Berbekal dengan rasa yang menurut saya enak ini, maka informasi untuk mencari nama varietas si mangga ini kembali saya lakukan. Dari berbagai informasi ternyata dia termasuk varietas Falan. Konon Falan dalam bahasa Thailand berarti Thunder atau petir. Dan menurut informasi pula buah Falan ini akan cenderung pecah jika berbuah saat terjadi badai petir atau semacamnya.
Beberapa orang sering menyebut juga sebagai "MAPADA" (mangga panen muda), oleh karena mangga ini sudah tergolong enak meskipun dipanen muda. Daging buah muda memiliki karakter yang renyah, dan tanpa rasa masam sama sekali. Jadi bagi Anda yang suka "rujakan" maka mangga ini kurang cocok dijadikan bahan rujak, sekali lagi karena tidak ada rasa masamnya.
| pentil buah |
Lantas bagaimana rasa buah jika tua ??
Terus terang jarang sekali merasakan buah ini hingga tua, bahkan belum pernah sekali merasakan sampai masak pohon. Pertama, karena masih muda pun si Falan ini sudah enak dikonsumsi. Kedua, karena karakternya yang cenderung pecah jika kelebihan air, terutama musim hujan, menjadikan buah ini jarang beranjak tua di pohon.
Namun beberapa buah yang sempat tua di pohon (biji sudah terbentuk sempurna) berasa nikmat sekali, saking enaknya sampai lupa gimana mendiskripsikannya. Meskipun buah ini berukuran tidak relatif besar, namun biji yang sangat tipis menjadikan bagian buah yang dimakan juga semakin banyak. Ukuran buah mungkin berkisar 250-300 gram per buah.
Pengalaman dari 3 kali berbuah yang rata-rata buah banyak pecah di pohon, menjadikan tantangan tersendiri untuk menghadapi musim buah berikutnya.
Kesimpulan sementara sih karena pasokan air (hujan) yang banyak dan datang tiba-tiba, serta pemberian nutrisi terutama K yang mampu menjaga kelenturan kulit buah saat proses pembesaran yang belum optimal
Semoga bermanfaat.....


